JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan, Mayjen TNI (Purn) Tubagus (TB) Hasanuddin, membeberkan bahwa alokasi anggaran untuk pos latihan fisik kemiliteran bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menembus angka Rp30 juta per peserta.
Politikus yang bernaung di komisi pertahanan, intelijen, dan mitra strategis Kementerian Pertahanan (Kemhan) ini menilai nominal tersebut terlalu besar dan kurang relevan dengan output kompetensi yang dibutuhkan.
Berdasarkan hitungan kalkulasi dari durasi total pelatihan selama 45 hari, porsi pendanaan terbesar justru terserap habis untuk aktivitas lapangan ala militer, bukan untuk pemahaman tata kelola bisnis koperasi.
“Berdasarkan kriteria pelatihan untuk tujuh hari itu menghabiskan Rp5 juta per peserta, maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp45 juta per orang. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” ungkap TB Hasanuddin dalam siaran pers tertulisnya, Senin (29/6/2026).
Di sisi lain, peruntukan latsarmil ini mengacu pada program penguatan kapasitas yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Sekretariat Jenderal Kemhan melalui Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, program ini direncanakan secara masif untuk menjaring puluhan ribu sumber daya manusia di tingkat perdesaan dan pesisir.
Tercatat ada sebanyak 30.000 calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta 5.476 calon manajer Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang diwajibkan mengikuti Latsarmil Komponen Cadangan (Komcad). Total keseluruhan peserta secara nasional mencapai 35.476 orang.
Jika kalkulasi biaya latihan militer sebesar Rp30 juta per orang tersebut dikalikan dengan jumlah total peserta khusus KDMP saja (30.000 orang), maka estimasi anggaran yang digelontorkan untuk komponen fisik militer disinyalir menembus angka fantastis sekitar Rp900 miliar.
Angka ini bahkan akan melompat melampaui Rp1 triliun jika turut menghitung komponen peserta dari sektor kampung nelayan.
Rangkaian pembekalan ini dilaksanakan secara serentak selama 45 hari dan tersebar di 67 satuan kedinasan TNI di seluruh wilayah Indonesia. Materi yang diadopsi mencakup latihan dasar kemiliteran layaknya anggota Komcad pada umumnya.
Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa doktrin militer dasar ini krusial untuk membentuk mentalitas pengelola fasilitas publik di daerah. Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menerangkan bahwa aspek kedisiplinan dan kepemimpinan bernegara merupakan modal dasar yang tidak boleh dikesampingkan.
“Melalui latsarmil Komcad, peserta dibekali ilmu dan nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, kerja sama tim, integritas, semangat pengabdian, serta etos kerja yang kuat,” jelas Rico sebagaimana dilansir dari kantor berita Antara.
Rico menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan ini dinilai penting agar para calon manajer memiliki ketahanan mental dan tanggung jawab tinggi saat memimpin KDMP maupun KNMP.
Selain itu, Kemhan juga memastikan para peserta tetap mendapatkan muatan manajerial dan kompetensi teknis yang kurikulumnya dirancang bersama kementerian teknis terkait.***






