Guru ngaji dan petugas pemandi jenazah di Kota Serang merasa kecewa. Pasalnya, insentif atau honor sebesar Rp100.000 per bulan yang telah mereka terima selama bertahun-tahun dari Pemerintah Kota (Pemkot) Serang kini dipangkas atau dihapus bagi sebagian besar penerima.
Kekecewaan ini muncul karena saat kampanye Pilkada Kota Serang, Wali Kota terpilih (pasangan Budi/Agis) berjanji akan menaikkan honor guru ngaji, ketua RT, dan ketua RW. Kenyataannya, bukannya naik, honor guru ngaji dan petugas pemandi jenazah tersebut justru dihapus.
Penghapusan honor ini menciptakan beban baru. Guru ngaji dan petugas pemandi jenazah kini mengadu dan memprotes kepada Ketua RT dan Ketua RW di lingkungan masing-masing, sehingga para Ketua RT/RW harus mencari jalan keluar untuk mengantisipasi gejolak. Hal ini diungkapkan oleh beberapa Ketua RT dan Ketua RW di Kota Serang kepada Wartawan Cahaya Bangsa baru-baru ini.
Menurut mereka, penghapusan honor ini tidak tepat karena honor tersebut telah berjalan baik dan menjadi penyemangat, serta menunjang kesejahteraan para penerima, meskipun nilainya kecil. Mereka juga khawatir bahwa guru ngaji dan petugas pemandi jenazah berprasangka negatif terhadap Ketua RT dan RW, menganggap mereka tidak adil karena honor yang sedang berjalan tiba-tiba dihapus. Seharusnya, Pemkot Serang mencari solusi agar honor ini tetap ada.
Informasi yang dihimpun Wartawan Cahaya Bangsa dari beberapa kepala kelurahan menyebutkan bahwa Pemkot Serang tidak mampu lagi memberikan honor tersebut kepada sebagian penerima karena anggaran Kota Serang sangat minim. Hal ini disebabkan Kota Serang tidak memiliki sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar (seperti pabrik, pelabuhan, atau objek wisata). Oleh karena itu, janji kampanye Wali Kota terpilih tidak dibuktikan dan tidak direalisasikan.
Kondisi ini membuat para Ketua RT dan RW menagih janji kepada Wali Kota Serang yang baru. Rosyadi, Ketua Umum Paku Banten Center Indonesia dan mantan Ketua RW dua periode, sangat menyesalkan dihapusnya honor tersebut, meskipun kecil nilainya namun sangat berharga. Ia menilai Wali Kota Serang yang baru, Budi, tidak mampu menyediakan dan mencari terobosan anggaran. Ia menyarankan Pemkot Serang untuk mensiasati agar dana anggaran didapatkan sehingga honor dan insentif tersebut tetap berjalan. (d)






