SERANG – Proyek pembangunan peningkatan kualitas prasarana sarana utilitas (PSU) berupa jalan lingkungan di kp.Benoa Kidul Rt. 007 Rw. 002 Ds. Sindangheula, Kec. Pabuaran, Kab. Serang, terus menuai sorotan.
Pantauan awak media saat dilokasi pekerjaan dengan nilai kontrak Rp189.670.000,- yang dibiayai APBD Provinsi Banten tahun 2025 melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Provinsi Banten itu dinilai dikerjakan asal-asalan.
Sejumlah kejanggalan terlihat di lokasi, mulai dari pemasangan paving block yang renggang, berlubang, kastin pecah hingga minimnya pemadatan lantai dasar karena penggunaan abu batu yang tidak seimbang. diduga anggaranya disunat Kondisi tersebut membuat hasil pekerjaan terlihat tidak berkualitas jauh dari harapan, Jum’at (03/10/25).
Salah seorang warga di lapangan yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa pekerjaan tersebut tidak bagus karena tidak ada pengawasan dari dinas terkait sehingga kontraktor bekerja tanpa pengawasan yang ketat.
Soal kualitas pekerjaan yang terkesan asal jadi itu, Menjadi tanda tanya publik. ada informasi proyek ini dapat beli dari program aspirasi dewan melalui para broker proyek baik dari internal maupun eksternal dinas PRKP Banten.
Proyek Psu Dinas PRKP Banten mendapat sorotan dari pengamat pembangunan Lemabaga Pusat Informasi Jaringan Rakyat Banten, Ikbal Rahmatullah ST,
” Sejak program Proyek PSU direncanakan sudah tercium bau busuk dalam penganggarannya sepertinya ada dugaan mark up dan permainan jual beli karena berkaitan dengan aspirasi dewan, tentu harus mendapat restu dari dewan jika ingin mendapat proyek itu “. Ujarnya
Menurut Ikbal pihaknya akan melayangkan surat pengaduan kepada aparat penegak hukum meminta untuk turun tangan mengusut tuntas praktek jual beli proyek di banten yang sangat merugikan keuangan daerah dan masyarakat luas yang mendambakan infrastruktur yang baik dan berkualitas.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak pelaksana proyek CV. REZQIANO PRATAMA. maupun Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Banten belum dapat dikonfirmasi terkait temuan di lapangan.***






